Dewa bukanlah Tuhan


Ini memang topik yang paling menarik dari semuanya.
Tetapi memerlukan waktu untuk mendapatkan pemahaman yang sebenarnya mengenai
Tuhan. Inilah goal dalam belajar Veda. Kalau main sepak bola tidak tahu goalnya
kapan mau menang, biar
pandai gocek bola, jago goreng bola, kalau goalnya nggak tahu, tidak bisa
membuat goal, nggak pernah menang, semuanya tidak berguna.
Vedais ca sarvair evam eva vedyo, dari semua Veda Aku-lah yang harus diketahui.
Jadi goalnya belajar Veda pengetahuan KeTuhanan ( Gita 15.15).

Sekarang apa beda Dewa dengan Tuhan. Ini sudah pasti berbeda.
Untuk itu saya perlu membuktikan dengan ayat2/sloka2 suci, bukan menurut
pendapat sendiri.
Memang wajib hukumnya mengacu kitab suci kalau berbicara kerohanian, artinya
saya akan mengutip sloka2 dari sumber Veda. Bukan untuk bertingkah, karena saya
tidak berani berspekulasi mengenai kerohanian. Orang seperti itu berspekulasi
dengan imajinasinya. Spekulasi seperti ini, dapat menyesatkan banyak orang.
Dalam beberapa sloka Bhagavad-gita kedepan, saya ingin menjelaskan perbedaan
Dewa dengan Tuhan YME.
Selama ini banyak orang sulit membedakan antara dewa dengan Tuhan.
Dewa keberadaannya dialam material, dewa ditugaskan oleh Tuhan sebagi
administrator alam material. Mengatur segala sesuatu dialam material.
Alam Tuhan kekal, tidak pernah pralaya, sedangkan alam Dewa pralaya secara
periodik.
Tuhan pengendali alam rohani dan material, dewa administrator alam material,
dewa tidak dapat memberi pembebasan, Tuhan dapat memberi pembebasan
Tuhan adalah yang Maha Kuasa, Pengendali Tertinggi, sebab dari segalanya,
tidak ada awal tidak ada akhir, bentuk yang kekal, penuh pengetahuan dan
kebahagiaan.
Boleh saja banyak penguasa2 seperti dewa2, presiden, gubernur, bupati, camat
dsb-nya, tetapi diatas semua itu ada satu penguasa tertinggi Yang Maha Kuasa,
sebab dari segala sebab dan sebab segala sesuatu
Kalau kita belajar kitab suci Veda belum sampai pemahaman Tuhan, bagaimanapun
pemahaman kita berada dibawah agama lain.
Saya memang sloka minded dalam berbicara kerohanian. Kalau berbicara mengenai
spiritual dasarnya berbicara adalah isi kitab suci, bukan berbicara menurut
pendapat pribadi. kalau berbicara kerohanian menurut pendapat pribadi, akan
banyak muncul pendapat pendapat pribadi yang berbeda beda. Kalau ada 10 pribadi
dengan 10 pendapat berbeda beda yang mana kita benarkan.
Mengutip kitab suci kita biasakan dalam pembicaraan mengenai kerohanian.
Kita meminimalkan debat kusir
Memang banyak yang masih tidak paham perbedaan Deva dengan Tuhan.

Ada juga yang mengutip sloka begini begitu begini begitu, tetapi tidak
menyebutkan dari kitab suci mana dikutip sloka itu, itu yang harus jelas.
Sebenarnya dari sloka Bhagavad-gita 9.25 sudah jelas perbedaan Dewa dan Tuhan,
sbb.

yanti deva vritah devan, penyembah dewa akan kealam dewa
Pitrin yanti pitri vritah penyembah leluhur kealam leluhur
Bhutani yanti bhuteja penyembah setan dan roh alus kealam setan
Yanti mad yajino pimam penyembah-Ku akan datang kepada-Ku

Dari sloka ini jelas sekali penyembah Dewa tidak mencapai Tuhan. penyembah Dewa
sampai ditempat Dewa.
Alam Dewa yang tidak kekal , tidak sama dengan alam Tuhan yang kekal.
Dewa adalah ciptaan Tuhan juga sebagaimana kita.
Dewa kalau bersalah juga copot dari jabatannya bahkan bisa dihukum sebagaimana
Deva Indra yang dihukum menjadi babi.
Posisi Dewa indra juga adalah suatu jabatan yang sewaktu waktu bisa copot,
kalau yang bersangkutan melakukan kesalahan, bahkan bisa dihukum.
Tidak berbeda dengan jabatan Gubernur Aceh, yang dijabat oleh Abdulah Puteh,
kemudian dicopot darinya bahkan Abdulah Puteh dijatuhi hukuman. Kemudian ada
personal yang lain yang berkwalifikasi seperti itu diangkat menempati posisi
Gubernur Aceh.
Demikian pula posisi para Dewa.

LAMBANG SWASTIKA HINDU


Swastika merupakan salah satu simbol yang paling disucikan dalam tradisi Hindu, merupakan contoh nyata tentang sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks sehingga hampir mustahil untuk dinyatakan sebagai kreasi atau milik sebuah bangsa atau kepercayaan tertentu.

Diyakini sebagai salah satu simbol tertua di dunia, telah ada sekitar 4000 tahun lalu (berdasarkan temuan pada makam di Aladja-hoyuk, Turki), berbagai variasi Swastika dapat ditemukan pada tinggalan-tinggalan arkeologis ( koin, keramik, senjata, perhiasan atau pun altar keagamaan) yang tersebar pada wilayah geografis yang amat luas.
Wilayah geografis tersebut mencakup Turki, Yunani, Kreta, Cyprus, Italia, Persia, Mesir, Babilonia, Mesopotamia, India, Tibet, China, Jepang, negara-negara Skandinavia dan Slavia, Jerman hingga Amerika.

Budha mengambil swastika untuk menunjukkan identitas Arya.

Makna simbul Swastika adalah Catur Dharma yaitu empat macam tugas yang patut kita Dharma baktikan baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk umum (selamat, bahagia dan sejahtra) yaitu:
1. Dharma Kriya = Melaksanakan swadharma dengan tekun dan penuh rasa tanggung jawab
2. Dharma Santosa = Berusaha mencari kedamaian lahir dan bathin pada diri sendiri.
3. Dharma Jati=Tugas yang harus dilaksanakan untuk menjamin kesejahtraan dan ketenangan keluarga dan juga untuk umum
4. Dharma Putus=Melaksanakan kewajiban dengan penuh keikhlasan berkorban serta rasa tanggung jawab demi terwujudnya keadilan social bagi umat manusia.

Makna yang lebih dalam yaitu Empat Tujuan Hidup yaitu Catur Purusartha / Catur Warga: Dharma, Kama, Artha, Moksa.
1. Dharma = Kewajiban/kebenaran/hukum/Agama/Peraturan/Kodrat
2. Artha = Harta benda / Materi
3. Kama = Kesenangan / Hawa Nafsu
4. Moksa = Kebebasan yang abadi

Swastika dalam berbagai bangsa
Simbol ini, yang dikenal dengan berbagai nama seperti misalnya Tetragammadion di Yunani atau Fylfot di Inggris, menempati posisi penting dalam kepercayaan maupun kebudayaan bangsa-bangsa kuno, seperti bangsa Troya, Hittite, Celtic serta Teutonic. Simbol ini dapat ditemukan pada kuil-kuil Hindu, Jaina dan Buddha maupun gereja-gereja Kristen (Gereja St. Sophia di Kiev, Ukrainia, Basilika St. Ambrose, Milan, serta Katedral Amiens, Prancis), mesjid-mesjid Islam ( di Ishafan, Iran dan Mesjid Taynal, Lebanon) serta sinagog Yahudi Ein Gedi di Yudea.

Swastika pernah (dan masih) mewakili hal-hal yang bersifat luhur dan sakral, terutama bagi pemeluk Hindu, Jaina, Buddha, pemeluk kepercayaan Gallic-Roman (yang altar utamanya berhiaskan petir, swastika dan roda), pemeluk kepercayaan Celtic kuna (swastika melambangkan Dewi Api Brigit), pemeluk kepercayaan Slavia kuno (swastika melambangkan Dewa Matahari Svarog) maupun bagi orang-orang Indian suku Hopi serta Navajo (yang menggunakan simbol itu dalam ritual penyembuhan). Jubah Athena serta tubuh Apollo, dewa dan dewi Yunani, juga kerap dihiasi dengan simbol tersebut.

Di pihak yang lain, Swastika juga menempati posisi sekuler sebagai semata-mata motif hiasan arsitektur maupun lambing entitas bisnis, mulai dari perusahaan bir hingga laundry.

Bahkan perusaha besar Microsoft menggunakan lambang swastika miring ke kanan 45 derajat, mungkin sebagai lambang keberuntungan. Karena sampai saat ini tercatat sebagai perusahaan terkaya di Dunia.

Bahkan, swastika juga pernah menjadi simbol dari sebuah kekejaman tak terperi saat Hitler menggunakannya sebagai perwakilan dari superioritas bangsa Arya. Jutaan orang Yahudi tewas di tangan para prajurit yang dengan bangga mengenakan lambang swastika (Swastika yang “sinistrovere”: miring ke kiri sekitar 45 derajat) di lengannya.
Swastika sebagai lambang Dewa Ganesha (anak Shiva yang bermuka gajah), sebagai makna Catur Dharma.

Kata Krishna pada Arjuna di medan pertempuran .. ketika Arjuna harus berperang melawan saudaranya sendiri inilah yang salah ditapsirkan oleh Hitler yaitu “Lakukanlah apapun yang harus kau laukukan selama itu adalah tugasmu. Kau harus mengemban tugasmu dengan baik walaupun itu berarti harus membunuh (untuk kebaikan), karena melakukan tugasmu dengan baik adalah bentuk pengabdian pada Tuhan”

Hitler mungkin tertarik pada arti swastika makanya dia mengambil lambang swastika dan membaliknya, makanya dia bisa mambunuh dengan tanpa rasa bersalah. Karena dia berpikir apa yang diperbuatnya adalah apa yang benar. Dia berlindung dibawah Swastika yang arahnya terbalik, yang semestinya untuk makna Catur Dharma.

Om Santih, Santih, Santih

Umat Hindu Pemuja Arca, Ataukah Penyembah Berhala?


Konsep pemujaan terhadap murti atau arca Tuhan dan berbagai penjelmaan-Nya merupakan ciri pokok cara sembahyang dalam Agama Hindu. Sebaliknya dalam ajaran agama lain cara tersebut dipandang sebagai sebuah jalan kesesatan. Umat agama lain melarang keras pemujaan terhadap objek sembahyang apapun yang diciptakan oleh manusia. Cara sembahyang umat hindu dituduh sebagai pemujaan berhala. Celakanya, pemujaan terhadap berhala inilah yang sering dijadikan sebagai alasan untuk “menyelamatkan” orang-orang Hindu.

Berbagai pertanyaan mencuat ketika melihat cara orang hindu memuja tuhan mereka. Masak sih, Tuhan seperti batu? Tidakkah berarti kita membatasi tuhan kalau tuhan kita puja dalam wujud tertentu? Apakah bukan pelecehan besar kalau kita mempersamakan Tuhan dengan benda-benda ciptaannya? Lalu muncullah berbagai pertanyaan teologis yang acapkali memojokkan.

Pengertian Arca dalam Tradisi Pemujaan Hindu

Kata arca asalnya dari bahasa sansekerta yang sudah diserap kedalam bahasa indonesia. Nama lain arca adalah murti atau pratima. Dalam bukunya Darshan : Seeing the Divine Image in India, Professor Diana Eck dari Harvard University, Amerika menuliskan sbb:

“just as the term icon conveys the sense of a ‘likeness’ so do the Sanskrit word pratikriti and pratima suggest the ‘likeness’ of the image of the deity it represents. The common word for such image, however, is murti, wich is defined in Sanskrit as ‘anything which has difinite shape and limit, ‘ ‘a form, body, figure,’ ‘an embodiment, incarnation, manifestation. ‘Thus the muti is more than a likeness;it is the deity itself taken ‘form’… The uses of the word murti in the upanisads and the ‘Bhagavad-gita’ suggest thet the form is its essence. The flame is the murti of fire, (etc)…”

Artinya :

“Seperti halnya istilah ikon menunjukkan makna ‘kesurupan’ begitu pula kata-kata pratikrti dan pratima dalam bahasa Sansekerta mengandung makna ‘kesurupan’ antara gambar atau patung dengan dewata yang dilambangkannya. Namun, kata yang umum digunakan untuk menyebut patung seperti itu adalah murti yang didefinisikan sebagai ’segala sesuatu yang memiliki bentuk dan batas tertentu,’ ’suatu bentuk, badan, atau figur,’ ’sebuah perwujudan, penjelmaan, pengejawantahan.’ Jadi murti lebih dari sekedar ‘kesurupan’, melainkan dewata sendiri yang telah mewujud. …Pemakaian kata murti dalam berbagai Upanisad dan ‘Bhavad-gita’ menunjukkan bahwa bentuk atau wujud itu adalah hakekat atau esensinya. Nyala api adalah murti dari api, dan sebagainya…

Sayangnya setelah diserap ke dalam bahasa indonesia, kata arca kemudian dimaknai identik dengan kata patung atau berhala, dan sering berkonotasi negatif.

Mengapa dibutuhkan Arca

Tujuan tertinggi pemujaan kpd Tuhan menurut Weda adalah moksa yaitu terlepasnya atman dari perputaran kelahiran dan kematian yang dialami berulang kali ke dunia material ini, atau terbebasnya dari reinkarnasi (samsara). Pembebasan ini itu hanya dapat dicapai bila seseorang telah berhasil pulang ke dunia rohani, memasuki kerajaan tuhan.

Syarat untuk mencapai kepada Tuhan adalah, kita harus mencintai Tuhan. Pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang” juga berlaku dlm hubungan kita dengan Tuhan. Bagaimana kita bisa mencintai beliau, kalau kita tidak pernah kenal beliau? Kalau ternyata Tuhan tidak berwujud, tidak memiliki sifat, tidak terdeskripsikan dan lain-lain? Bagaimana kita bisa “memberi” sesuatu kepada Tuhan, kalau mata kita tidak bisa melihat-Nya? Msutahil, karena berbagai alasan, pertama karena keterbatasan panca indera kita. Tuhan mungkin sudah hadir di depan mata kita, tapi mata kita tidak mampu melihatnya. Telinga tidak mampu mendengar bisikan tuhan yang lembut, yg mungkin sudah dekat telinga kita. Itu karena frekuensi yang berbeda. Dalam atmosfir di sekitar kita berseliweran beribu-ribu gelombang cahaya, suara, listrik dsb. Toh mata dan telinga kita tidak bisa menangkapnya. Seandainya mata dan telinga sangat peka, tentu kita tidak butuh telepon, TV atau radio. Dengan segala keterbatasan itu, bagaimana kita bisa melihat dan mencintai Tuhan? Padahal kalu mau jujur kita tidak pernah bisa bersembahyang pada kekosongan. Saat berdoa, sembahyang atau melakukan pemujaan, pastilah pikiran kita membayangkan suatu figur, sosok, bentuk, wujud, konsep atau gambaran tertentu yang dijadikan obyek pemusatan pikiran. Namun para maharesi atau orang suci yang telah mencapai tingkat keinsafan diri tertinggi, mampu secara langsung melihat wujud dan sifat tuhan.

Arca atau murti dibuat dari bahan kayu, batu, logam, tanah liat, cat dan sebagainya. Ada kitab Weda khusus bernama silpa sastra, yang berisi panduan lengkap bagaimana orang membentuk arca atau murti Tuhan. Ada upacara dan mantram tertentu yang harus dilakukan untuk “mengundang” Tuhan agar berkenan “bersemayam” dalam murti atau arca yang dipuja. Tuhan maha hebat, Beliau mampu mengubah sesuatu yang bersifat material menjadi bersifat spiritual. Apa sulitnya bagi Tuhan untuk “masuk” kedalam arca atau murti, untuk menrima bhakti dan persembahan dari pemuja-Nya yg berbakti dengan hati dan keinginan yang tulus? Bukankah batu, kayu, logam atau bahan lainnya semua adlah ciptaan Tuhan sendiri? Apakah kita akan disebut menghina dan menyekutukan Tuhan, kalau kita manfaatkan benda-benda ciptaan Tuhan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepada-Nya? Kalau kemudian ada yang bertanya : “Tuhan ada dimana-mana. Apakah itu berarti Tuhan juga ada di dalam arca? Mampukah Tuhan masuk, berada dan bersemayam dalam arca yang dipuja umat Hindu itu?

Biasanya ada yang menjawab : “Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tuhan Maha Suci, Tidak mungkin Tuhan berada dalam benda-benda ciptaan manusia!”

Kalau begitu, bisakah kita menyimpulkan “oh, jadi Tuhan kalah dengan manusia? Manusia lebih hebat dari Tuhan, karena mampu menciptakan sesuatu yang membuat Tuhan tidak mampu memasukinya? Tidak berdaya menghadapi benda-benda ciptaan manusia! Bukankah itu berarti Tuhan juga tidak mampu berada dalam masjid, gereja, pura dan wihara? Bukankah semua ‘tempat suci’ buatan manusia? Lalu apa gunanya kita sembahyang di pura, masjid, gereja atau wihara kalau toh Tuhan tidak bisa berada di dalamnya?

Dalam konsep Hindu, Tuhan bersifat transenden, sekaligus imanen. Artinya, selain berada di tempat tinggal rohani-Nya, Tuhan juga sekaligus berada dalam benda-benda ciptaan-Nya Tuhan dilihat dan dihayati dalam segala sesuatu. Pertimbangan-prtimbangan demikian yang melandasi konsep pemujaan arca atau murti yang dijelaskan dalam kitab-kitab Weda.

Kesimpulannya, arca atau murti berbeda dengan berhala. Umat Hindu tidak menyembah berhala. Umat Hindu jujur dan berani terang-terangan memvisualisasikan Tuhan sesuai dengan pemaparan dalam weda.

Pentingkah untuk ber-Vegetarian ?


Bukan bermaksud buruk untuk mengajak Anda bervegetarian…

Bervegetarian memiliki dua peran penting:
1. Hidup sehat
2. Meningkatkan spiritualitas 

Bagian mana yang ingin anda ambil?

Vegetarian memiliki berbagai definisi, saya jelaskan sedikit secara umum saja:
1. Vegetarian untuk kesehatan: Tidak memakan makanan yang berasal dari daging hewani.
2. Vegetarian untuk spiritual: Tidak memakan makanan dengan menyakiti hewan terlebih dahulu, tidak menyakiti hewan dalam bentuk apa pun.

Meminum susu sapi memang berasal dari hewan, ada orang yang vegetarian tidak minum susu sapi dengan alasan karena berasal dari hewan. Namun, secara spiritual itu tidak masalah karena susu sapi diperoleh tanpa menyakiti sapi itu.

Vegetarian untuk umat Hindu:

Mungkin vegetarian menurut beberapa teman Hindu adalah sesuatu yang di luar Hindu. Mungkin menurut anda vegetarian itu adalah kebiasaan pengikut aliran tertentu. Sekedar bukti bahwa vegetarian adalah bagian dari ajaran Veda, siapa yang tidak mengenal kitab Manawa Dharma Sastra? Manawa Dharma Sastra adalah kitab hukum yang mengatur kehidupan manusia.

Srimad Bhagavatam 12.3.52:

“krte yad dhyayato visnum
tretayam yajhato makhaih
dvapare paricaryayam
kalav tad hari-kirtanat”

(Hasil manapun yang diperoleh pada zaman Krta (Satya) dengan cara semadi kepada Visnu, pada zaman Treta dengan cara menghaturkan korban-korban suci, dan pada zaman Dvapara dengan melayani kaki padma Tuhan (pemujaan kepada Arca), dapat juga diperoleh pada Kali-Yuga ini dengan cara mengucapkan nama suci Tuhan Sri hari)

Manawa Dharmacastra 5.48:

“na krtva praninam himsam
mamsamtpadyate kwacit,
na ca pranivadhah svargyas
tasman mamsam vivarjayet”

(Daging tidak akan bisa didapat tanpa menyakiti mahluk-mahluk hidup, dan penganiayaan terhadap mahluk hidup adalah suatu halangan/pantangan dalam mencapai kebahagiaan suci, oleh karena itu hendaklah seseorang menghindari memakan daging)

Manawa Dharmacastra 5.51:

“anumanta vicasita nihanta
krayavikrayi,
samskarta copaharta ca
khadakacceti ghatakah”

(Ia yang mengijinkan penyembelihan seekor hewan, ia yang memotongnya, ia yang membunuhnya, ia yang membeli dan menjualnya, ia yang memasaknya, ia yang menyuguhkannya, dan ia yang memakannya semuanya itu patut dianggap sebagai pembunuh-pembunuh binatang)
Tanpa kita sadari, makan daging adalah penyebab utama peningkatan suhu bumi yang menyebabkan pemanasan global serta kerusakan ozon. Ets, ini bukan menurut saya lho. Berikut kutipan dari pejabat PBB yang mengajak kita bervegetarian:[/B]

Laporan PBB:

Konsumsi daging adalah penyebab utama pemanasan global
____________________________________________
– Lebih dari 70% hutan hujan di Amazon ditebang untuk produksi daging
– Peternakan menghasilkan gas rumah kaca lebih banyak daripada gabungan polusi transportasi di seluruh dunia
– Menghasilkan 65% nitrogen oksida yang disebabkan oleh manusia (296 kali lebih panas dari CO2)
– Menghasilkan 37% metana yang disebabkan oleh manusia (23 kali lebih panas dari CO2)
“Peternakan adalah salah satu kontributor terbesar untuk masalah-masalah lingkungan yang paling serius saat ini.

Tindakan mendesak sangat dibutuhkan untuk memperbaiki keadaan ini.”

Dr. Henning Steinfeld
Kepala Informasi Peternakan dan Kebijakan, FAO-PBB
Jadi, ayo kita vegetarian…
Semoga kita saling mengasihi kepada semua makhluk…
Semoga semua hidup dalam damai selalu…

Master Wang Che Kuang, Direktur Institut Maitreya Dunia: “Di muka bumi ini, walaupun hanya ada dua orang, asalkan masih makan daging, maka perang akan tetap ada.”

Willian Ralp Inge: Kita telah memperbudak binatang ciptaan Tuhan, dan memperlakukan semua saudara kita yang berbulu dan bersayap itu dengan kejahatan yang paling mengerikan. Jika saja mereka bisa mendirikan sebuah agama, mereka tentu akan melukiskan para setan dalam bentuk manusia.

Willian Ralp Inge: Kita telah memperbudak binatang ciptaan Tuhan, dan memperlakukan semua saudara kita yang berbulu dan bersayap itu dengan kejahatan yang paling mengerikan. Jika saja mereka bisa mendirikan sebuah agama, mereka tentu akan melukiskan para setan dalam bentuk manusia.

Bulu Sang Induk…
Pada suatu hari, anak-anak ayam kehilangan induknya, mereka di pekarangan hanya menemukan bulu sang induk yang berdarah, walaupun anak-anak ayam bercicit memanggil induknya hingga menangis, tetapi ia sudah mati, dan anak-anaknya tak menyadarinya. Mereka tetap berkumpul menjaga bulu induknya. Mereka berduka dan mengharap cinta induknya. Dapatkah perasaan ini dirasakan oleh manusia?

Albert Einstein: Makanan vegetaris meninggalkan suatu kesan yang indah yang mendalam dalam budaya kita. Jika seluruh dunia mengadopsi vegetarianisme, maka ini dapat mengubah nasib dunia.

Dalam buku The Science of Self-Realization
Wartawan: Bagaimana anda mengetahui bahwa hewan memiliki roh?

Srila Prabhupada: Anda tentu bisa mengetahui. Berikut ini adalah bukti ilmiah. Hewan sedang mencari makan, anda juga sedang mencari makan, hewan sedang tidur, anda pun sedang tidur, hewan sedang melindungi dirinya, anda juga sedang melindungi diri, hewan melakukan aktifitas seksual, anda pun melakukan aktifitas seksual, hewan mempunyai anak, anda pun memiliki anak, anda punya tempat tinggal, mereka juga punya. Jika tubuh hewan tersayat, akan keluar darah. Ketika tubuh anda tersayat, juga akan mengeluarkan darah. Jadi, semua kesamaan ini benar-benar terpampang nyata di hadapan kita. Kalau begitu, mengapa anda hendak menyangkal kebenaran ini? Bahwa hewan dan kita sama-sama memiliki roh! Apakah anda pernah belajar logika? Dalam ilmu logika, terdapat prinsip perbandingan, yaitu melalui pencarian hal-hal yang sama antara dua objek, lalu dibuat kesimpulan. Jika manusia dan hewan memiliki begitu banyak kesamaan, sama-sama memiliki roh, mengapa anda menolak kenyataan ini? Kebenaran logika dan ilmiah tidak bisa dibantah.

Harvey Diamond: Masukkan sebuah apel, kelinci dan seorang bayi ke dalam keranjang. Jika bayi makan kelinci, kemudian bermain dengan apel, maka saya akan membeli mobil yang baru …
George Bernard Shaw menulis lagu untuk perdamaian:
Kita adalah kuburan hidup dari binatang itu dibunuh, disembelih untuk memuaskan nafsu mulut kita…

Medis:
Dr. Owens S. Parrett: Proses menjadi tua dan kelelahan, dipercepat oleh makan daging.

Penelitian skala besar telah dilakukan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Minnesota, Amerika (1960) selama 21 tahun terhadap penganut Kristen Adventis yang vegetarian. Ditemukan, bahwa kelompok ini memiliki kemungkinan sangat rendah terkena kanker, dengan rentan hidup yang jauh lebih panjang dibandingkan kelompok lainnya.

Jean Mayer Harvard (ahli gizi):Cukup dengan menurunkan produksi daging sebesar 10% di Amerika, maka kita akan memiliki bahan pangan palawija yang dapat mengenyangkan 60 juta manusia…

Dr. William Robert: Bersamaan dengan semakin banyaknya orang makan daging, penyakit kanker juga bertambah pesat.

Mantram Trisandhyà


Om bhùr bhvah svah
tat savitur varenyam
bhargo devasya dhimahi
dhiyo yo nah pracodayàt

Om Nàràyana evedam sarvam
yad bhùtam yac ca bhavyam
niskalanko nirañjano nirvikalpo
niràkhyàtah suddo deva eko
Nàràyano na dvitìyo’sti kascit

Om tvam sivah tvam mahàdevah
ìsvarah paramesvarah
brahmà visnusca rudrasca
purusah parikìrtitah

Om pàpo’ham pàpakarmàham
pàpàtmà pàpasambhavah
tràhi màm pundarìkàksa
sabàhyàbhyàntarah sucih

Om ksamasva màm mahàdeva
sarvapràni hitankara
màm moca sarva pàpebyah
pàlayasva sadà siva

Om ksàntavyah kàyiko dosah
ksàntavyo vàciko mama
ksàntavyo mànaso dosah
tat pramàdàt ksamasva màm

Om sàntih, sàntih, sàntih, Om

Terjemahan :

Tuhan adalah bhùr svah. Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi, Semoga Ia berikan semangat pikiran kita.

Ya Tuhan, Nàràyana adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nàràyana, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Ya Tuhan, Engkau dipanggil Siwa, Mahàdewa, Iswara, Parameswara, Brahmà, Wisnu, Rudra, dan Purusa.

Ya Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa, lindungilah hamba Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.

Ya Tuhan, ampunilah hamba Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk, bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba oh Hyang Widhi.

Ya Tuhan, ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa pikiran hamba, ampunilah hamba dari kelahiran hamba.

Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selamanya.

Pupuh Ginada


eda ngaden awak bisa
depang anake ngadanin
geginane buka nyampat
anak sai tumbuh lulu
ilang lulu ebuk katah
yadin ririh
enu liu peplajahan

artinya :

Jangan mengira diri sendiri sudah pintar
Biarkan orang lain yang memberi nama
seperti kegiatan menyapu
setiap hari selalu ada sampah
hilang sampah maka debu yang datang
walaupun sudah pintar
masih banyak yang harus dipelajari

Bhagawadgita


Bhagawadgita (Sanskerta: भगवद् गीता; Bhagavad-gītā) adalah sebuah bagian dari Mahabharata yang termasyhur, dalam bentuk dialog yang dituangkan dalam bentuk syair. Dalam dialog ini, Kresna, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah pembicara utama yang menguraikan ajaran-ajaran filsafat vedanta, sedangkan Arjuna, murid langsung Sri Kresna yang menjadi pendengarnya. Secara harfiah, arti Bhagavad-gita adalah “Nyanyian Sri Bhagawan (Bhaga = kehebatan sempurna, van = memiliki, Bhagavan = Yang memiliki kehebatan sempurna; ketampanan sempurna, kekayaan yang tak terbatas, kemasyuran yang abadi,kekuatan yang tak terbatas, kecerdasan yang tak terbatas, dan ketidakterikatan yang sempurna, yang di miliki sekaligus secara bersamaan).

Syair ini merupakan interpolasi atau sisipan yang dimasukkan kepada “Bhismaparwa“. Adegan ini terjadi pada permulaan Baratayuda, atau perang di Kurukshetra. Saat itu Arjuna berdiri di tengah-tengah medan perang Kurukshetra di antara pasukan Korawa dan Pandawa. Arjuna bimbang dan ragu-ragu berperang karena yang akan dilawannya adalah sanak saudara, teman-teman dan guru-gurunya. Lalu Arjuna diberikan pengetahuan sejati mengenai rahasia kehidupan (spiritual) yaitu Bhagawadgita oleh Kresna yang berlaku sebagai sais Arjuna pada saat itu.